Perilaku Konsumsi Konten Genersi X

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman masa kecil saya dalam mengkonsumsi konten. Ya saya adalah seorang laki-laki kelahiran tahun 1976, dan orang-orang kelahiran tahun tersebut termasuk generasi X. Saat pertama-tama menonton telivisi di usia 5 tahun, tontonan untuk anak-anak seingat saya hanya ada satu dan dari satu buah stasiun telivisi juga. Nama tontonannya adalah Si Unyil dan chanel telivisinya adalah TVRI. Acara tersebut hanya ditampilkan satu kali seminggu setiap pagi di hari Minggu. Ya jadi bayangkan kalau mau menikmati seri lain dari Boneka Si Unyil kami harus menunggu selama tujuh hari lagi, padahal sekali tayang mungkin durasinya hanya sekitar 30 menit.

Lalu lima tahun kemudian barulah muncul tiga saluran (Chanel) televisi swasta, yaitu RCTI, SCTV dan TPI. Nah dengan adanyaa tambahan 3 saluran telivisi lainnya maka tontonan untuk anak-anak lumayan bertambah, mungkin jadi sekitar 12 tontonan. Jadwal tayangan untuk anak-anak pun bertambah, kalau biasanya tontonan kita hanya ada di hari Minggu pagi, di saluran telivisi swasta tontonan untuk anak-anak ada juga di waktu sore setiap hari. Kalau tadinya di TVRI itu tidak ada iklan dan interupsi, artinya selama penayangan program acara yang ditayangkan tidak dipotong semuanya, ditampilkan utuh secara langsung. Nah di televisi swasta selama acara tontonan selalu dipotong dan disisipi dengan iklan. 

Kalau dipikir-pikir lucu juga karena setiap tayangan selama sekitar 10 menit dipotong dan di selingi dengan berbagai macam iklan, yang kalau ditotal ada durasi 5 menit iklan. Jadi tentu saja kami mesti mengingat-ingat adegan atau pembicaraan apa sebelum iklan biar bisa tetap mengikuti jalannyaa cerita pada acara tersebut. Kadang di sela-sela iklan kami juga menyempatkan untuk ke kamar mandi atau toilet, tapi ternyata iklannya cuma sedikit dan tentu saja kita juga jadi melewatkan beberapa adegan ataupun dialog. Selain ke toilet di sela-sela iklan kadang kami juga memanfaatkan jeda iklan ini kaami juga memanfaatkaannya untuk mengambil minum ataupun cemilan.

Lalu ketika sudah kuliah mulailah kami mengenal tontonan cerita serial bersambung, biasanya serial laga ataupun serial cerita silat. Cerita silat ini seingat saya waktu penayangannya biasanya di malam hari dan durasinya lumayan lama. Tiap penayangan ceritanya selalu bersambung, artinya setiap tayangan itu mempunyai bobot cerita yang sama pentingnyaa. Apabila kita melewatkaan satu kali tontonan maka tidak ada cerita siaran ulangan, episode yang terlewat tidak pernah ditayangkan ulang daan tentunya jadi ada alur cerita yang putus dalaam pemahaman kita. Solusinya adalah meminta teman yang menonton untuk menceritakan seri yang kitaa lewatkan. Tapi ada kalanya kita semua tidak sempat menonton yaitu ketika suatu kota, jadi tidak ada satupun teman kita yang sempat menontonnya.

Kalau sudah begitu ya gelap jugalah jalan ceritanya, paling-paling kita semua hanya bisa mengira-ngira apa yang terjadi selama seri yang tidak semapat kita tonton itu. Apa yang sudah terlewatkan tidak akan pernah kita ketahui, tetapi kita tetap menikmati seri yang sedang kita tonton. Kita juga tidak pernah tahu ada berapa banyak seri sebenarnya seriaal silat ini, masih banyak kah aataupun sudah mau mendekati akhir cerita. Tapi dari banyaknya tontonan serial silat ini, tanpa disadari kita jadi memahami nilai-nilai filosofis dari ajaran Budha dan juga Konghucu, karena rata-rata setting cerita-cerita ini adalah di China. Selain itu kita juga jadi tau sejarah dan kebudayaan mereka, karena aaada beberapa serial silat yang terinspirasi dari sejarah kerajaan di China.

Pengalaman menonton di usia anak-anak hinggaa remaja yaang dialaami oleh generasi X ini berbeda jauh dengan apa yang dialami oleh generasi Z. Generasi Z ini tontonan sudah didominasi dari Internet daalam hal ini YouTube dan bukan lagi televisi. Anak-anak generasi Z bisa menonton dan memilih berbagai macam chanel anak dan tontonan yang di khusukan untuk anak. Mereka juga tidak perlu menunggu tujuh hari kemudiaan ataupun keesokan harinya untuk melanjutkan menonton siaran yang mereka inginkan. Iklan mungkin masih ada, tetapi durasinyaa tidak selama kita saat menonton di televisi swasta dulu. Mereka juga bisa mengulang apabila ada seri yang terlewatkan, ataupun kalau masih kurang paham merekaa bisa menonton berkali-kali. Kalau tidak dibatasi jumlah konten yang bisa mereka konsumsi bisa sangat banyak, jauh lebih banyak daripada yang dikonsumsi oleh generasi X.

Selain itu generasi Z ini bisa saja dengan sengaja tidak menyelesaikan ataupun melewatkan konten yang sedang merka tonton kalau mereka tidak suka, dan melanjutkannya dengan menonton konten yang lain. Asumsi saya sepertinya mereka terbiasa untuk mengambil kesimpulan dari suatu konten, padaahal mereka tidak menyaksikan konten tersebut secara utuh. Mungkin juga karena mereka jadi lebih gampang merasa bosan dengan karenaa bisa segampang itu menggonta-ganti tontonan tanpa menyelesaikannya. Atau juga mereka bisa dengan gampang terdistraksi untuk menonton konten lainnya, karena kalaau menonton di YouTube kita bisa melihat thumbnail  dan judul konten lainnya di layar kita. 

Pada tulisan kali ini saya sengaja tidak terlalu banyak membahas mengenai generasi Z, hanya saja saaya akan mengira-ngira keuntungan apa yang diperoleh dari generasi X pada saat mengkonsumsi konten di masa yang lalu. Kualitas konten yang dikonsumsi oleh generasi X di masa kanak-kanaknya amat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan konten generasi Z. Akan tetapi salah satu keunggulan dari generasi X adalah kesabaran dan semangat juangnya. Karena kitaa bisa dengan sabar menunggu 7 hari kemudian untuk menonton acara anak, sabar menonton iklan, dan sabar juga menonton sampai acaara selesai walaupun durasinyaa sudah ditambah dengan iklan. 

Selain itu menurut saya generasi X juga mempunyai kemampuan fokus untuk waktu yang lebih lama, mungkin karenaa kita terbiasa untuk menyelesaikan mengkonsumsi konten sampai selesai. Atau mungkin juga pada masa itu kita tidak mengalami banyak distraksi, karenaa pilihan acara tidak banyak. Bisa jadi juga karena kita pasrah, hanya ada satu acara yang di tonton seminggu sekali dari hanya satu chanel televisi pula. Pola ini menurut saya berpengaruh besar pada perilaku dan mindset masing-masing generasi. Karena kontrasnya pola konsumsi konten ini pantasan saja kalau kedua generasi (X Vs Z) ini tampak tidak akur dalam kehidupan sosial, termasuk di dunia kerja. Kadang-kadang seru juga membaca komen-komen dari media sosial ketika kedua generasi ini saling beradu argumen mengenai dunia kerja, apalagi kalau sudah membahas besarnya angka pengangguran generasi Z. 

Comments

Popular Posts