Perlunya Membatasi Perhatian

Awal tahun 2025 ini ada suatu aktifitas baru yang saya lakukan bersama anak perempuan saya yang berusia 9 tahun, kalau biasanya kami bermain Roblox bersama kali ini kami bermain Catur. Ya dia menginstal aplikasi catur ke dalam tablet saya supaya kita bisa bermain bersama. Sambil bermain dia bercerita bahwasanya dia baru saja memilih catur sebagai kegiatan ekstra kulikuler di sekolahnya. Sebagai orang tua tentunya saya senang-senang dan mendukung apa saja pilihannya, dan dia juga bercerita bahwa dia menikmati kegiatan bermain catur. Sebetulnya saya sudah lama sekali tidak bermain catur, seingat saya terakhir sering bermain catur adalah ketika saya masih tinggal di rumah teman saya, mungkin sekitar tahun 2004. Di masa itu memang ada salah seorang teman yang sangat suka bermain catur, dan kebetulan kalau ada waktu saya tertantang untuk melawannya bermain catur.  

Karena kemalasan saya berpikir, mengingat dan menganalisa langkah catur akhirnya saya membuat metoda saya sendiri dalam bermain catur. Caranya adalah kalau memungkinkan, kurangilah buah catur mu dan buah catur lawanmu sebanyak mungkin. Karena dengan semakin sedikit buah catur di atas papan catur, maka kerja otak sayapun akan semakin ringan. Hal ini juga termasuk adalah berter (saling memakan) ratu seawal mungkin, karena yang paling banyak langkahnya adalah ratu. Dengan berkurangnya ratu saya dan ratu lawan, maka mengurangi banyak sekali beban analisa dan pikiran kita. Semakin tinggi level perwira yang berkurang maka semakin sedikit alternatif langkah dan antisipasi yang perlu saya pikirkan. Teman bermain catur saya dulu termasuk kaget ketika saya hampir setiap hari mempraktekan metoda ini melawannya.

Saya juga sempet berpikir juga kalau metode ini bisa dipraktekan dalam kehidupan kita sehari-hari, semakin sedikit barang-barang miliki kita maka akan semakin ringan beban pikiran kita. Karena menurut saya semakin banyak yang kita pikirkan, maka akan semakin banyak distraksi yang kita alami ketika kita sedang melakukan aktifitas. Dan tentu saja asal muasal dari benda-benda ini adalah dari keinginan pikiran kita sendiri. Selain itu dari suatu benda maka akan melahirkan kebutuhan akan benda pendamping/pelengkap lainnya. Contohnya ketika kita memiliki sepeda motor maka kita akan melahirkan pikiran baru mengenai helm, SIM, bahan bakar, cicilan dan yang lainnya. Mungkin istilahnya adalah kemelekatan, artinya dari setiap benda yang kita miliki pikiran kita juga melekat kepadanya.

Hal itu menurut saya juga berlaku saat kita menambahkan identitas diri kita terhadap sesuatu, seperti kepercayaan, anggota komunitas tertentu, warga negara, ataupun juga status sosial di dalam masyarakat. Mungkin kalau diibaratkan dengan smartphone maka aplikasi tersebut akan memakai ruang penyimpanan yang ada di dalam smartphone tersebut, dan apabila semakin banyak apilkasi yang di instal maka suatu saat secara signifikan akan membebani kinerja dari smartphone tersebut. Menurut saya kehidupan kita sebagi manusia juga mirip seperti itu. Biar kita tidak berat menjalani kehidupan maka kita perlu meng uninstal/membuang pemahaman yang pernah ada sebelumnya, karena sebenarnya tidak semua pemahaman tersebut berguna dalam menjalani kehidupan kita. Fokuslah hanya pada hal-hal/pemahaman yang esensial dan nyata saja, yang hanya berupa konsep imajiner jangan sampai membebani pikiran kita.

Saatnya kita lebih fokus menjalani dan menikmati apa yang ada di depan mata kita, tidak usah berusaha memikirkan apa yang ada di depan mata orang lain. Atau bahkan kita juga merepotkan diri kita dengan memikirkan apa yang ada di dalam pikiran orang lain, alias mengira-ngira apa yang dipikirkan orang lain. Kegiatan tersebut tentunya akan menguras energi dan sumber daya diri kita sendiri. Kadang-kadang orang yang kita kira-kira isi pikirannya tersebut bukanlah orang yang penting dalam kehidupan kita, atau bahkan mereka juga sama sekali tidak peduli dengan kehidupan kita. Bahkan secara terus terang harusnya kita berani bertanya kepada diri kita sendiri, apakah ada keuntungan nyata yang bakal kita dapatkan dari perhatian yang kita berikan terhadap orang tersebut? Kalau tidak ada maka sebaiknya kita mengalihkan perhatian tersebut kepada orang-orang yang kehadirannya nyata di dalam kehidupan kita. Karena perhatian tersebut adalah energi dan waktu kita. 

Comments

Popular Posts