Boys Toys
Ada suatu masa dimana akhirnya saya lebih menyukai definisi sebagai makhluk biologi, yang disebut dengan animal thinking atau binatang yang berpikir. Karena dalam pandangan ini saya dapat menelaah perilaku manusia sebagai bentuk dari sistim biologi yang terjadi di dalam tubuhnya. Dalam hal ini saya memandang manusia hanya sekedar entitas yang berusaha untuk mempertahankan keberadaannya di atas permukaan bumi ini selama mungkin, bahkan kalau bisa mereka hidup dalam keabadian. Dan karena sampai saat ini hal tersebut belum bisa terlaksana, maka salah satu caranya adalah dengan menduplikasikan dirinya. Dengan kata lain mereka berusaha meneruskan DNA mereka kepada keturunannya, dalam hal ini mekanismmenya adalah sistem reproduksi. Dan menurut saya sistem (reproduksi) inilah yang akan mempengaruhi hampir segala perilaku manusia yang ada di atas permukaan bumi.
Pada suatu kesempatan saya pernah membaca salah satu artikel yang membandingkan antara alasan atau penyebab pria dan wanita berselingkuh. Ternyata ada perbedaan yang mencolok di antara alasan mereka masing-masing berselingkuh. Penjelasan tersebut dimulai dari logika sistem reproduksi antara jantan dan betina. Produksi sperma pria dalam satu hari bisa mencapai jutaan (kuantitas), sedangkan wanita dalam satu kali siklus 30 hari hanya memproduksi satu sel telur (kualitas). Jadi logika dari perspektif jantan, untuk membuat DNA mereka abadi adalah dengan memperbanyak sebanyak mungkin keturunan. Atau pada prakteknya mereka akan kawin dengan sebanyak mungkin betina. Sedangkan dari sisi betina, untuk membuat DNA mereka abadi adalah dengan mendapatkan kualitas terbaik yang memungkinkan untuk mereka dapatkan untuk mereka ataupun keturunan mereka.
Makanya kalau dibahas secara sederhana seringkali ada kasus dimana kalau pria selingkuh, kadang-kadang dibahas penampilan dari selingkuhannya tidak lebih baik daripada pasangan mereka yang resmi. Sedangkan kalau wanita yang selingkuh biasanya kualitas (kekayaan, penampilan dan status) sosial selingkuhannya lebih baik daripada kualitas pasangn resmi mereka. Biasanya dalam acara gosip atau apapun itu seringkali di ungkap alasan masing-masing individu untuk selingkuh, akan tetapi menurut pendapat saya pola utamanya adalah dari sistem reproduksi yang telah saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Lahirnya pola pemikiran dan perilaku mereka sebenarnya dilandasi oleh prinsip-prinsip utama tersebut. Tapi pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai perselingkuhan.
Sebenarnya tulisan ini lahir karena persis sebelum ini saya baru saja membaca sebuah utas yang membahas sebuah studi kasus. Bahasannya adalah seandainya ada satu pasang manusia (suami dan istri) yang sedang dalam perjalanan mengendarai mobil, namun di tengah perjanan mesin mobil tersebut mogok. Tindakan apa yang dilakukan oleh suami dan tindakan apa pula yang dilakukan oleh istri. Dari sisi suami, suami akan melihat semua indikator yang ada di dasboard, lalu kalau tidak ada yang aneh dia akan menaritk tuas pembuka kap mobil. Selanjutnya dia akan turun dari mobil, membuka kap mesin lalu memeriksa mesin sambil mencari tanda-tanda ke tidak normalan yang kelihatan (misalnya bekas gosong kabel terbakar). Apabila dia menemukan tanda tersebut maka dia akan menelusuri tanda tersebut untuk mencari sumber masalahnya. Ketika akhirnya menemukan sumber masalah, maka selanjutnya dia akan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Pola seperti inilah yang terjadi secara terus menerus selama sejarah peradaban manusia, atau bahkan sejak zaman manusia purbakala ratusan ribu tahun yang lalu. Kenapa pola seperti ini terjadi dalam pikiran pria? Siklusnya umumnya adalah sebagai berikut : mengalami masalah - mencari sumber/penyebab masaalah - menemukan sumber masalah - mencari solusi - masalah selesai. Otak jantan akan menerimaa reward ketika mereka menyelami/menyelesaikan masing-masing fase yang ada dalam siklus tersebut. Bahkan reward tertinggi yang didapaatkan bukanlah ketika kita sudah menyelesaikan suatu fase, akan tetapi dosis rerward yang lebih tinggi justru kita peroleh ketika kita berada di antara dua fase. Ilusi bahwa kita menuju ke suatu fase lah yang memberikan kita dosis reward yang lebih besar daripada saat kita menyelesaikannya. Hal ini bisa dianggap sebagai pencapaian (achievment) dalam prespektif jantan, terbebas dari pengukuran besar kecilnya kualitas pencapaiannya.
Karena sistim hadiahnya bekerja berdasarkan pencapaian, maka otak seakan-akan memanipulasi perilaku jantan untuk mengalami sebanyak mungkin pencapaian. Secara tidak sadar sistem manipulasi ini berjalan secara terus-menerus di dalam otak jantan, kecuali ketika individu tersebut mengetahui bagaimana sitem ini bekerja dan memprogram ulang sistem tersebut. Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan manusia dan didukung juga dengan kemajuan teknologi, maka kita dapat mengetahui dan mempelajari cara kerjanya. Karena pengetahuan kita akan hal ini maka kita tentu saja dapat mempelajari nya dan terlepas dari kegiatan yang tanpa sadar kita sadari karenanya. Akan tetapi di sisi lain pengetahuan ini juga dapat digunakan secara sistematis, untuk memanipulasi perilaku manusia yaang dimanfaatkan untuk keperluan terrtentu. Salah satunya bentuk prakteknya adalah membuat manusia kecanduan terhadap suatu hal.
Sistem ini tentunya dimanfaatkan dengan baik oleh para kapitalis untuk memperbudak kita dengan ilusi pencapaian semu, lewat pola konsumsi. Sampai-sampai ada sebuah istilah "gaya hidup selalu lebih tinggi dari penghasilan", apabila penghasilan (gaji) seseorang bertambah maka gaya hidup (anggaran belanja) juga bertambah bahkan melebihi penghasilan barunya. Ini adalah salah satu pembuktian perilaku secara langsung yang dapaat kita amati dengan mata telanjang. Selain itu kita juga terpola untuk membeli barang-barang untuk membuktikan pencapaian yang telah kita raih, seakan-akan barang tersebut mewakili validasi (medali) atas pencapaian yang kita raih. Dimana selanjutnya kita akan terpacu untuk bekerja lebih giat lagi agar kita dapat membeli barang yang lebih mahal daripada barang yang sebelumnya. Seakan-akan kebahagian kita di dalam hidup ini bisa diukur dengan berapa banyak materi (medali) yang bisa kita peroleh. Fenomena ini dalam kebudayaan modern biasa juga disebut dengan Boys Toys, tanpa pandang usia selalu ada mainan untuk laki-laki.
Comments
Post a Comment