Secangkir Kopi Tubruk Di Samigaluh
Pekan ini sudah memasuki penghujung tahun 2024, jalanan di Kota Jogja sudah mulai dipenuhi oleh kendaraan yang datang dari berbagai kota. Kebetulan sekali hari ini cuaca dan langit di sekitaran Jogja tampak terang dan cerah, berbeda dengan beberapa hari sebelumnya yang selalu hujan, bahkan sehari yang lalu sempat terjadi angin kencang. Menjelang datangnya petang saya bersiap-siap untuk mendatangi pembukaan acara pameran Kertas Daur Ulang, yang bertempat di pusat kota Jogja.
Dari meteran bensin di motor saya bisa disimpulkan isi tangkinya penuh, daripada bermacet-macetan ke pusat kota lebih baik saya jalan-jalan saja sore ini agak jauh sedikit ke pinggiran. Daripada berdesak desakan di jalan lebih baik kita menikmati suasana bentang alam di daerah Kulon Progo. Untuk melengkapi sore yang cerah di sepanjang hari ini maka secangkir kopi tubruk adalah pilihan yang tepat.
Berangkat dari rumah di daerah Cebongan saya mengarahkan motor saya ke jalan Kayu Agung. Melalui Sayegan sepanjang jalan sudah mulai terlihat hamparan hujau sawah dan kebun warga, di selingi keberadaan tempat makan tematik yang tampilannya asri dan menunya menggugah selera makan. Setelah melewati Sayegan hamparan sawah dan kebun yang hijau mulai mendominasi, pemandangan ini mulai memanjakan pandangan mata.
Dominan dengah warna hijau, tiba-tiba kita mendapatkan penampakan yang sedikit kontras. Di tengah-tengah ke hijauan ini kita mendapatkan tampilan tiang-tiang beton berwarna abu-abu yang berdiri tinggi menjulang ke atas. Tiang-tiang ini adalah penyangga jalan Tol yang nantinya akan melewati kota Jogja. Dengan tiang-tiang ini keberadaan sawah dan kebun warga diharapkan tidak terlalu terdampak akibat kehadiran jalan Tol. Kita mesti lebih berhati-hati ketika melintasi jalan dekat tiang-tiang ini sedang di bangun, karena banyak meterial proyek yang tercecer di sekitarnya.
Tak jauh setelah itu kita akan menyeberangi kali kecil dan memasuki daerah Minggir. Di jalan ini ada sebuah jalan lurus dan panjang, di sebelah kiri dan kanan jalan terhampar hijaunya sawah warga. Dan tepat di hadapan kita terbentang tumpukan Perbukitan Menoreh, yang masing-masing bukitnya berbada ketinggian dan warnanya. Karena masih jauh tumpukan perbukitan ini terlihat tidak terlalu besar dan tinggi, dan kita seolah-olah berkendara menuju kepadanya. Suatu kali saya pernah melalui jalan ini ketika mendung, pemandangannya sangat dramatis, tabir kabut seolah-olah menutupi sebagian dari bukit ini.
Lama-kelamaan kita akan menemukan sebuah per-tigaan besar dan pusat keramaian, ambil jalan ke kanan kita akan menemukan Pasar Kebonagung. Setelah pasar ini terdapat sebauh jembatan besar dan di bawahnya mengali aliran sungai Kali Progo. Tepat setelah menyeberangi jembatan kita sudah memasuki daerah Dekso dan setelah kita mengambil jalan yang lurus ketika melalui perempatan lampu merah Dekso tampilan layar di Google Map saya mulai menunjukkan jalan yang berkelok-kelok.
Sensasi melewati jalanan ini sangat mengasikkan, membuat indra sensoris kita banyak bekerja. Banyak sekali objek yang dapat dinikmati di segmen jalan Dekso-Samigalih ini. Selain sawah dan perkebunan warga, perbukitan yang tadinya terlihat tidak terlalu besar sekarang mulai terlihat utuh dan raksasa. Jalanan menanjak dan tikungan tajam membuat kita menikmati pemandangan sekaligus juga waspada. Hampir di sepanjang jalan yang penuh dengan tikungan dan tanjakan ini di sebelah kiri kita ada aliran sungai yang indah. Alirannya airnya lumayang deras dan tampak batu-batu besar memenuhi sungainya.
Karena sudah agak sore, sekitaran jam lima lewat Matahari sudah mulai merendah. Sepanjang jalan seakan-akan dia muncul dan menghilang bersembunyi di balik bukit-bukit. Di sepanjang jalan Samigaluh ini saya melihat ada beberapa papan tanda obyek wisata yang meawarkan pemandangan bentang alamnya yang indah beserta desa wisatanya. Di antarnya ada Gua Sriti, Desa Wisata Tinilah, Monumen bersejarah Situs Rumah Sandi Indonesia, dan beberapa buah Camping Ground. Mungkin lain kali saya akan datang lebih siang untuk dapat menjelajah tempat-tempat ini.
Akhirnya tepat beberapa saat sebelum Adzan Magrib saya tiba di sebuah warung kopi yang ada di tengah lebatnya pepohonan yang ada di Samigaluh, namanya Mupangati Kopi. Di sini saya memesan secangkir kopi tubruk, menunggu kopi tiba saya meluruskan kaki dan punggung yang lumayan pegal. Kalau dilihat dari Google Maps ternyata perjalanan dari tempat tinggal saya menuju tempat ini membutuhkan waktu hampir satu jam. Selama perjalan kecepatan motor saya berada di sekitar angka 40 kilometer per jam, kecepatan itu menurut saya cocok untuk menikmati pemandangan yang ada di sepanjang perjalanan.
Sambil menikmati kopi tubruk, sayup-sayup terdengar suara serangga di kegelapan malam dan juga ada suara desiran air sungai. Pemilik warung kopi mengatakan bahwa di sekitar situ memang ada aliran sungai kecil beserta beberapa aliran mata air. Baiklah lain kali saya akan datang ke tempat ini lebih siang dan berjalan kaki/treking di sekitaran area kedai kopi ini. Tak terasa sambil ngobrol dengan beberapa pengunjung warung kopi yang lain ternyata waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Karena usia sudah hampir 50 tahun dan tentunya penglihatan saya juga sudah menurun saya memutuskan saatnya pulang ke rumah.
Ternyata perjalanan pulang ke rumah tidak kalah serunya dengan perjalanan ketika menuju ke sana. Kebetulan sekali ini adalah pertama kali saya melewati jalur ini, karena jalur desa maka ada jalan yang gelap sama sekali. Ditambah lagi jalurnya didominasi dengan turunan yang curam serta tikungan tajam, jadi tubuh dan otak saya berada dalam kondisi kewaspadaan penuh, lengah sedikit kita bisa bablas masuk ke jurang. Menurut ahli neurosains kondisi otak yang awas seperti ini dibutuhkan untuk perkembangan kemapuan otak kita dan tentunya nanti bisa berdampak kepada kualitas kehidupan kita. Jadi sepertinya saya akan mencari dan menjelajah tempat-tempat baru yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Salam, Jangan Lupa Bahagia!

Comments
Post a Comment