Kisah Tukang Kayu dan Kapaknya.


       Pada suatu pagi, saya seharusnya berangkat ke Jogjakarta naik kereta yang berangkat jam tujuh pagi. Tetapi karena yang pegang tiket telat sampai di stasiun maka gagalah rencana naik kereta jam 7 pagi. Setelah melapor ke Kepala Stasiun untunglah kami diperbolehkan menumpang kereta yang berangkat jam delapan pagi. Didepan kursi yang saya duduki terdapat sebuah majalah, sepertinya majalah internal Kereta Api. Ada cerita menarik dalam majalah tersebut yang saya ingat sampai sekarang. Kalau tidak salah judulnya Tukang Kayu dengan Kapaknya. Ceritanya lebih kurang sebagai berikut.
       Alkisah ada seorang tukang kayu yang baru di terima oleh seorang Juragan kayu. Untuk bekerja dia diberikan modal sebuah kapak untuk memotong kayu yang ada di kebun bandar kayu tersebut. Upah yang diberikan bandar tersebut adalah borongan, artinya dia akan di bayar tiap minggu berdasarkan jumlah pohon yang berhasil dipotongnya dalam satu minggu. Selain itu ia juga diberikan uang makan dan uang kopi yang jumlahnya sama untuk bekal tiap hari.
       Dengan semangat Si Tukang kayu melakukan pekerjaannya. Pada minggu pertama dia berhasil menebang 15 batang pohon, minggu ke dua dia berhasil menebang 11 batang pohon. Minggu selanjutnya dia hanya berhasil menebang 7 batang pohon dan pada minggu ke empat hanya 5 batang pohon yang berhasil ditebangnya. Mendapati hasil perkerjaan tukang kayu baru nya yang menurun, Sang Juragan kayu lalu memanggil pegawainya tersebut, lalu bertanya kepadanya. “Kenapa kinerja kamu menurun dari waktu ke waktu dari pertama 15, 11, 7 lalu menjadi hanya 5 batang perminggu ?               Tukang kayu menjawab : Saya juga tidak mengerti Juragan, padahal tiap hari saya selalu memulai kerja jam7 pagi dan pulang jam 5 sore, pohon yang say tebangpun jenis dan ukurannya hampir sama. Tetapi makin lama menebang pohon terasa semakin susah dan melelahkan.” Lalu Sang juragan kembali bertanya “Apakah kamu sakit ?” Lalu Sang tukang kayu membalas dengan “Tidak Juragan, saya sehar sehat saja”. Kemudian Sang Juragan kembali bertanya “Apakah kamu mengasah kapak mu ?” Tukang Kayu menjawab “Tidak Pernah Juragan”. Lalu Sang Juragan tertawa terpingkal pingkal.
       Cerita Tersebut mengingatkan kan saya kepada pengalaman pribadi, yang kebetulan pernah menjadi tukang kayu amatiran. Suatu waktu saya sedang berada di rumah Orang Tua, dan kebetulan di sana ada sebuah tunggul pohon mati yang ukurannya lumayan besar. Karena kasihan sama Orang Tua akhirnya saya pergi ke toko material yang ada di sekitar rumah lalu membeli sebuah kapak lengkap dengan gagangnya. Sesampainya di rumah saya asah kapak tersebut, setelah tajam lalu saya mulai menebang Tunggul pohon tersebut. Setelah setengah jam saya berusaha menebangnya ternyata tidak sampai seperempat yang baru berhasil terpotong dan tangan juga terasa pegal pegal.
       Akhirnya upaya tersebut saya hentikan dan saya merasa ada yang tidak beres dengan kapak yang saya gunakan. Kebetulan sekali saya ingi di kota tersebut pernah melihat bengkel seorang pandai besi, Tampa pikir panjang saya bawa kapak tersebut ke pandai besi tersebut. Sesampainya di tempat Pandai besi tersebut saya menceritakan kejadian memotong tunggul pohon yang tidak beres beres, sambil memperlihatkan kapak yang saya gunakan untuk memotong tunggul pohon tersebut. Mendengar cerita saya pandai besi itupun tertawa. Setelah itu saya minta tolong untuk dibuatkan sebuah kapak untuk menyelesaikan pekerjaan saya tersebut. Pande besi tersebut menyangupinya lalu menyuruh saya untuk datang kembali besok siang mengambil kapak yang saya pesan.
Keesokan harinya saya mengambil kapak pesanan saya, dan langsung pulang ke rumah untuk menuntaskan pekerjaan memotong tunggul pohon mati tersebut. Ternyata dengan kapang buatan pande tersebut hanya menbutuhkan waktu tidak sampai 5 menit untuk memotong 3/4 bagian lagi dari sisa batang pohon tersebut. Selama menggunakan kapak tersebut juga saya merasakan bahwa tanaga yang saya keluarkan sangat sedikit sekali. Pantas saja saya ingat kemaren Pandai Besi terebut sempat berkata “Motong kayu itu pakai kampak, bukan pakai otot”.
       Selain itu banyak juga pengalaman lain selama menjadi tukang kayu amatiran yang saya ingat sampai sekarang. Bahwa dengan alat yang tepat yang kita asah dengan cara yang tepat pula kita dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat, dengan tenaga yang lebih sedikit dan bahkan dengan hasil yang lebih rapi. Salah satu perkakas yang agak “sensitif” adalah gergaji. Kalau kita salah memakai gergaji pekerjaan memotong katu menjadi susah dan hasilnya juga tidak presisi. Apalagi kalau kita sampai salah mengasah gergaji tersebut, yang ada pekerjaan jadi amburadul hasilnya jelek dan makan waktu banyak buat merapikan pekerjaannya. Begitu pula dengan berberapa perkakas kayu lainnya selain gergaji. Kita harus belajar cara menggunakannya dengan benar dan merawat/mengasahnya dengan benar juga. Begitu juga dengan perkakas yang lain seperti pahat dan serutan kayu.
       Bekerja dengan perkakas manual yang disetting dengan baik pekerjaan akan terasa menyenangkan dan terukur atau bahkan kita akan menikmati selama proses pekerjaan tersebut. Bekerja serasa sedang meditasi, tidak pakai tenaga berlebihan dan juga tidak memancing emosi. Bahkan dengan mengetahui kemampual perkakas yang kita gunakan kemampuan bertukang kita juga akan meningkat. Kita juga akan mampu menyelesaikan jenis pekerjaan yang lebih kompleks. 
       Kalau dipikir pikir cerita tukang kayu dengan perkakas dan pandai besi tersebut dalam kehidupan modern sekarang mirip dengan sebuah departemen R & D (riset dan pengembangan) dalam sebuah peusahaan. Kalau perusahaan tersebut ingin lebih maju dan dapat bersaing di pasar. Seharusnya perusahan tersebut belajar, riset mengumpukan data, membuat produk baru, mencari cara cara baru, mengolah data dan menganalisanya. Lalu mencoba mempraktek kan cara dan produk barunya ke pasar dan kembali menganalisa dan mempelajari hasilnya. Pekarjaan ini diulang ulang sampai mendapatkan hasil yang diinginkan.
       Apalagi sekarang zamannya “Big Data”, kalau kita tahu cara membaca dan cara menggunakan dan mengolahnya pekerjaan menjual dan mengira ngira menjadi lebih gampang dan jitu. Jadi menurut Tukang Kayu dan Pandai Besi kalau kamu ingin maju, pekerjaan R & D harus dilakukan dengan serius dan sungguh sungguh. Tidak usahlah mengandalkan orang lain dan menyalahkan orang lain. Masak sih sampai harus nunggu presiden baru dan harus membodohi orang lain dengan menyajikan data yang salah. Kalau kamu pingin maju ya bekerja, berusaha, belajar dan berdoa. Bukannya malah nyalahin orang lain, dengki/iri sama orang lain, mengeluh atau membohongi orang lain. Orang maju kerjaannya adalah riset riset riset riset dan riset, BUKAN nyinyir nyinyir nyinyir dan nyinyir.
       Ada pepatah lama yang bunyinya lebih kurang seperti ini “JANGAN BERMAIN KAPAK DI DEPAN TUKANG KAYU”.

Comments

Popular Posts