di sini anjing di sana anjing


Di Sini Anjing Di Sana Anjing

Tadi sore kebetulan saya mesti menuntaskan suatu pekerjaan yang ada di laptop pinjaman. Ya karena ini laptop pinjaman maka saya tidak tahu persis bagamana kondisi batrai pada saat terakhir dipakai. Anggap sajalah batreinya sudah habis jadi dalam perjalanan saya mesti mencari suatu tempat untuk bekerja sekaligus mengisi batrai laptop tersebut.
Karena waktu yang mendesak akhirnya saya putuskan untuk mampir ke warung kopi milik teman yang ada di jalan Anggrek. Beruntunglah tempatnya tidak terlalu berisik jadi semoga saya bisa fokus dengan pekerjaan. Teman saya pemilik warung sedang dikunjungi oleh dua orang sahabatnya semasa sekolah. Karena saya duduk persis di sebelah meja mereka maka mau tak mau saya ikut menyimak obrolan mereka.
Topik yang sedang di bicarakan saat itu adalah mengenai perjalanan berangkat dan pulang sekolah anak anak mereka di bandingkan dengan saat mereka berangkat dan pulang sekolah dulu. Mungkin dulu sekitar akhir tahun 80 an sampai awal 90 an mereka berangkat sekolah dengan menggunakan becak, berjalan kaki , naik sepeda ataupun naik kendaraan umum.
Pada saat itu naik becak ataupun naik kendaraan umum di Bandung lebih aman menurut mereka. Tidak banyak kemungkinan terjadinya tindakan kriminal terhadap penumpang angkutan umum, karena hampir sesama warga/tetangga saling memperhatikan. Mungkin karena pada saat itu orang orang (dan jalanan tentunya) tidak sepadat sekarang. Karena begitu ada kegitan ataupun kehadiran orang yang tidak bisa warga akan langsung waspada dan memperhatikan. Sehingga para calon pelaku kriminal akan berpikir dua kali sebelum melakukan aksinya.
Kondisi tersebut sangat berbeda dengan sekarang sangat banyak orang orang berseliweran dijalan. Mereka datang dan pergi dengan sangat cepat dan banyak sekali sehingga kita kehilangan kesempatan untuk mengenal ataupun mengingat ingat wajah mereka. Jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalan juga semakin bertambah padat dan orang juga semakin tergesa gesa.
Mereka bercerita bahwa sekarang makin banyak pelaku kriminal yang mengincar anak sekolah, mulai dari pemerasan saat dalam perjalanan pulang / pergi sekolah sampai dengan penculikan. Karena khawatir akan keselamatan anak mereka maka merka sendiri yang mengantar jemput anak berangkat ataupun pulang sekolah. Pantas saja sekarang jalanan di sekitar sekolah penuh oleh kendaraan yang menunggu ataupun menjemput anak pulang sekolah.
Solusi yang lain adalah dengan memesan ojek online untuk menjemput anak mereka di sekolahnya dan langsung mengantarkan mereka pulang ke rumah ataupun ke tempat les. Cara ini selain aman juga efektif untuk mengindari anak main main ke tempat lain setelah pulang sekolah. Dengan begini para orang tua merasa kekhawatiran mereka berkurang akan keselamatan anak mereka.
Tapi kemudian terpikirkan salah satu kekhawatiran yang lain di benak teman saya, yaitu “kemiskinan pengalaman” yang di alami oleh anak mereka. Kurangnya improvisasi, menemui hal hal baru, mencoba jalur jalur baru ataupun mengalami kejadian yang diluar dari kebiasan dan bereaksi terhadapnya. Karena setiap hari mereka akan di suguhi oleh pengalaman yang hampir sama.
Saya jadi ingan pengalaman saya semasa sekolah dulu, yang kebetulan tinggal di daerah terpencil yang sebelumnya adalah hutan. Pemukiman ini lumayan luas, bahkan beberapa rumah yang terluar masih berbatasan langsung dengan hutan belentara. Komplek perumahan ini adalah komplek perumahan Pertamina yang berada di Dumai, Riau.
Karena penghuni komplek ini berkerja pada waktu kerja dan tempat kerja yang bersamaan maka pada siang hari keadaan di komplek bisa dikatakan kosong. Selain percaya pada satpam untuk menjamin keamanan rumah mereka hampir beberapa pemilik rumah memelihara anjing untuk menjaga rumahnya. Anjing anjing ini ada yang di ikat ada juga yang di lepas bebas berkeliaran.
Berbatasan langsung dengan hutan, alasan orang memelihara anjing adalah untuk mengusir hewan liar dari hutan agar tidak masuk atau mendekati rumah mereka. Hewan hewan liar tersebut diantaranya adalah gerombolan monyet liar, babi hutan, musang, ular besar maupun kecil, biawak atau pun harimau. Ya selama lebih kurang lima belas tahun tinggal di komplek tersebut ada kesempatan dua kali melihat harimau secara langsung.
Yang pertama adalah saat seekor harimau yang berhasil di perangkap dengan kurungan (dalam kondisi terkurung). Lokasi tertangkapnya persis di pinggiir parit kecil tempat saya biasa mancing dan dekat dengan tempat tinggal saya (sekitar 200 meter dari rumah). Untung saja selama saya sedang memancing di tempat tersebut belum pernah didatingi harimau.
Sedangkan pengalaman melihat yang kedua kali adalah malam dalam perjalanan pulang dari mesjid sehabis sholat Isya. Saat itu saya jalan kaki dan sekitar 300 meter sebelum sampai di rumah. Sekitar 50 meter di depan saya karena gelapnya malam saya melihat bayangan binatang yang sekilas seperti anjing tetapi ukurannya besar sekali. Seingat saya tidak ada anjing yang sebesar itu di sekitar rumah.
Menghindari rasa penasaran dengan yakin saya anggap saja bayangan tersebut adalah bayangan harimau, toh kalupun ternyata bayangan tersebut adalah seekor anjing besar saya juga mesti balapan lari dengannya. Jadi diputuskanlah mencari jalur perjalanan memutar yang lebih jauh. Ya diakui sejak saat itu saya tidak pernah lagi sholat Magrib di mesjid. Jarak antara rumah dengan mesjid sekitar 1,5 km sampai 2 km.
Kembali ke urususan sekolah, jarak dari rumah ke sekola kalau di tarik garis lurus sekitar 700 an meter. Kalau lewat jalur jalan kendaraan mungkin jadi sekitar 1 km karena berputar putar dan ada jalur yang menanjak. Dan karena alasan inilah saya lebih sering ke sekolah jalan kaki daripada naik sepeda.
Saya lebih memilih mengambil jalan memotong halaman dan perkarangan belakang rumah orang untuk berangkat dan pulang sekolah. Untuk diketahui semua rumah yang ada di komplek perumahan ini tidak ada yang berpagar. Jadi semua orang bisa bebas lalu lalang di sekitar perkarangan rumah. Ya betul bebas, bebas kalau di sekitar rumah tersebut tidak ada anjingnya kalaupun ada anjingnya ya bebas juga kalau kita tidak takut dengan anjing.
Begitulah petualangan sehari hari selama jalan kaki berangkat dan pulang sekolah. Ada anjing yang baik dan jinak yang bisa di lewati. Ada anjing yang rada galak yang jalurnya mesti di hindari. Ada saatnya kenapa anjing yang galak tiba tiba ada di jalur aman. Ada saatnya kita mesti menikmati adu lari dengan anjing (untung selama ini belum pernah digigit). Ada anjing yang cuma menggonggong dan menakuti kita dan tentunya juga ada yang tiba tiba langsung mengejar.
Tapi seiring waktu dan pengalaman lama kelamaan kita juga bisa mengenal masing masing dari mereka dan beradaptasi ketika mesti berhadapan dengan mereka. Belakangan akhirnya saya mengambil resiko untuk belajar menakut nakuti biar anjing anjing ini tidak menganggu kita lagi.

Comments

Popular Posts