Senyap, cepat dan tepat.

Akhirnya setalah beberapa lama bekerja sebagai pengurus kucing mengajari  saya beberapa hal. Sebagian besar kucing yang saya urus, awalnya adalah anak ataupun bayi kucing yang dipisahkan secara sengaja dari induknya (dibuang) oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Seharusnya anak anak kucing ini masih disusui dan diasuh oleh induknya karena tentunya belum bisa mencari makan sendiri ataupun berburu. Selain itu tentunya anak anak kucing ini masih butuh zat zat penting (gizi dan daya tahan) dari induknya yang diperoleh melalui air susu. Anak anak kucing yang kurang gizi biasanya taya tahan tubuhnya lemah, gampang terkena penyakit pertumbuhannya terhambat dan malnutrisi. Oleh karena itu agar mereka dapat bertahan hidup lebih banyak campur tangan manusia amat dibutuhkan (karena mereka dipisahkan dari induknya).
Mungkin banyak di antara kita pernah mengalami atau melihat kenyataan bahwa ada manusia yang telah sengaja dibekali pendidikan Sekolah Dasar enam tahun, Sekolah menengah enam tahun, Sarjana enam tahun, Master dua tahun, Doktor empat tahun yang kalau dijumlahkan sekitar 20an tahun untuk belajar tetapi masih tetap tinggal dengan orang tua (kebetulan saya punya tetangga yang seperti ini). Cobalah dibandingkan keadaannya dengan anak kucing yang sengaja dipisahkan dari induknya (kebanyakan yang saya temui baru berusia sekitar 2 bulan bahkan juga pernah ketemu yang masih umur beberapa hari) yang seharusnya masih menyusu dan diasuh oleh induknya. Yah kadang kadang juga saya bingung sebenernya kuliah sampai jadi doktor atau sekolah selama 20 tahun itu sebenarnya belajar apa.
Kembali ke urusan kucing, karena kebanyakan dari mereka daya tubuhnya lemah maka kalau ada seekor yang sakit biasanya yang lain juga ikut ketularan sakit. Biar penyakitnya tuntas kita harus memberikan antibiotik, dulu waktu masih ngurus beberapa ekor masih sempat di bawa ke dokter hewan tapi kalau suadah ada 30 atau 50 ekor yang flu lain lagi ceritanya. Bentuk dari antibiotik ini ada yang berupa cairan, tablet dan kapsul yang sudah ditakar sesuai dengan berat badan. Dari tiga jenis ini yang paling praktis menurut saya adalah bentuk tablet karena biasanya kalau lagi wabah ukuran berat badan kucing yang sakit bervariasi. Kalau dengan kapsul kita mesti mempersiapkan beberapa macam takaran yang artinya mesti ada beberapa wadah juga untuk memisahkan/membedakan takaran. Selain itu kelemahan yang lain adalah kalau pada percobaan pertama memasukkan ke mulut kucing gagal kapsul yang sudah dilepeh/dimuntahkan biasanya menjadi basah dan lengket dan usaha untuk memasukkannya kembali ke mulut kucing akan jauh lebih susah karena kapsul bisa saja menempel ke jari kita atau ke lidah kucing.
Untuk obat yang berbentuk cairan salah satu cara memindahkan cairan dari botol obat ke mulut kucing kira mesti menggunakan alat bantu yang disebut spet, siring atau suntikan. Kelemahan dari cara ini adalah untuk mendapatkan dosis yang tepat butuh waktu dan konsentrasi yang banyak dan juga kasihan kucingnya mereka akan merasakan pahit, dan kalau kita terlalu terburu buru memasukkan obatnya biasanya mereka suka tersedak akibat ada cairan yang masuk ke saluran pernafasan. Kalau kepahitan mulut kucing akan mengeluarkan buih dan kalau keselek mereka juga akan muntah jadi dosis yang masuk ke tubuhnya tentu akan berkurang, dan efek dari obat juga tidak efektif sesuai dengan berat badan. Dan satu lagi kelemahan obat berbentuk cairan/syrup ini adalah biasanya Cuma dapat bertahan enam hari dan harus disimpan di lemari pendingin.
Keunggulan dari obat yang berbentuk tablet adalah kita hanya perlu membawa tablet obat dan alat potong (tang pemotong kabel atau gunting untuk memotong kuku kucing) untuk membagi tablet sesuai dengan dosis. Ukuran tablet yang biasa dipakai adalah 1 tablet metro (infeksi pencernaan) untuk 20 kg berat badan, 1 tablet doxi (infeksi pernafasan) untuk 10 kg berat badan, 1 tablet canivern (obat cacing) untuk 10 kg berat badan. Jadi kalau kucing beratnya 5 kg kait flu tinggal kasih setengah tablet doxi. Keunggulan lainnya adalah ukurannya bisa jadi lebih kecil dan akan jadi lebih mudah untuk memasukkan ke mulut kucing.
Berdasarkan pengalaman ada beberapa trik biar obat tersebut sukses dengan gampang masuk ke dalam mulut kucing tanpa tangan kita terluka terlalu banyak (kalau luka mesti aja ada) karena dicakat ataupun digigit. Trik yang pertama adalah senyap, jangan sampai kucing yang akan diberi obat tersebut panik karena kalau panik mereka akan kabur, susah membuka mulut, melawan dan tentunya juga akan menularkan kepanikan kepada kucing yang lain. Intinya kalau bisa mereka jangan sampai tau /sadar akan diberi obat secara paksa (karena agak mustahil mereka rela dan mau disuruh makan obat sendiri). Yang kedua adalah cepat, makin lama proses kita memasukkan obat ke dalam mulut mereka makin tersiksa mereka dan kemungkinan kita dicakar dan digigit karena mereka melawan juga makin besar. Kalau waktunya pas/cepat bahkan mereka tidak sempat sadar untuk melawan ataupun meronta, tiba tiba mulut mereka sudah menganga dan obat sudah ditelan. Yang ketiga adalah tepat, kita mesti tepat membidik memasukkan obat tepat di tengah pangkal saluran pencernaan. Kalau meleset obat akan tersangkut di lidah ataupun mulut bagian samping  maka obat tersebut tentunya akan dengan gampang dimuntahkan oleh kucing dan kita akan memulai kembali proses dari awal menangkap, membuka mulut dan memasukkan obat.

Senyap, cepat dan tepat adalah pelajaran dan pengalaman yang didapat dari pekerjaan mengurus kucing.

Comments

Popular Posts